Hari ini ada tetangga baru yang tinggal di sebelah rumah milik Bian dan Biru. Mereka ada 4 orang, dua lelaki dan dua perempuan.
Mereka juga sudah menemui Bapak Peter selaku ketua RT 12 untuk mengurus kepindahan mereka yang sangat tiba-tiba itu.
“Gwede ne rumahe, kamu habis berapa ini bang beli rumah segede bandara” Ucap salah seorang gadis dengan rambutnya yang dikepang dua saat memasuki rumah sembari menyeret kopernya.
“Lak mesti se peres poll jadi anak og.” cibir pemuda yang lebih pendek sambil melewati sosok gadis tadi yang dibalas dengusan keras.
“Wes ayo kamu ndang milih kamar, Na, ojok malah diem ae ndek situ.” perintah yang paling tua kearah gadis lainnya yang sedari tadi memandangi rumah yang ada diseberang dari balik jendela.
Gadis dengan rambut yang dikepang dua itupun menghampiri,“Liatin oposeh, kok sawangane seru ” gadis itu seketika ikut terdiam juga setelah melihat rumah yang ada didepannya, “Ndoh Jancok, iku lak Jeno cok” pekik gadis itu refleks membuat gadis berambut pendek disebelahnya jadi mendecak keras.
“Hmm Ara se cocote nek dikandani, lak gaisa dijaga. Aku ket tadi ae diem kok ben ndee ga liat, iki malah kon seng bawanter cangkeme.” gadis yang dipanggil Ara itu jadi mencibir sebelum melipir pergi karena merasa bersalah.
“Athena, come here please. Tolongin Abang ini bukain koper, gak bisa dibuka.” teriak seseorang membuat gadis yang masih bergeming didepan jendela itu jadi mendesah keras sebelum melangkah menghampiri si Sulung di kamar paling pojok.
“Lawong semalem ae Abang seng nyebutin pin nya loh,” semprot Athena membuat si Sulung jadi terkekeh sembari mengelus pelan puncak kepala gadis itu.
“Wes talah maklumi ae wes tuek Abang ini, makane jangan angel-angel nek mbikinin pin nggo Abang.” Athena hanya merollingkan matanya kemudian beranjak setelah berhasil membuka koper milik sang kakak.
“Wes tuh. Bang Ian habis ini tolong delivery mie bandung dong, Ara sama Darren belom sarapan tadi.” Kata Athena memberi perintah sembari melenggang pergi dengan menarik koper miliknya yang berada diluar kamar.
“Koko lapo ndek kene? Iniloh kamarku, sanao pergi ndek kamar dekete Bang Ian o, kamarmu itu cocok e ndek samping dapur.” Celetuk Ara saat gadis itu mendapati Darren yang sudah rebahan diatas ranjang yang seharusnya itu milik Ara.
Pemuda itu tak menghiraukan dan dirinya malah berguling guling diatas ranjang dengan sengaja memancing amarah sang adik, “Aduhhh sek ta bentar, aku cuwapek o ket tadi nyetir”
Ara yang menyadari gelagat menjengkelkan sang kakak jadi mendecak keras sebelum menarik kedua kaki pemuda itu sebelum menariknya keras membuatnya jatuh dari ranjang.
“Sakit cokk, yaapa sehh kamu ambek Koko jahat pol kayak psikopat.” Pemuda itu protes sembari mengomel dan bangkit, lalu berjalan mendekati Ara sebelum menarik salah satu kepangan gadis itu, membuatnya memekik kencang.
‘Bugh Bugh Bugh’
“Nih rasain nih anjingg. Ko Darren jancok bener.” Kata Ara sembari kembali melayangkan pukulan keras kearah Darren yang gesit menghindar namun berakhir terkena beberapa kali pukulan sebelum mencekal pergelangan tangan gadis itu.
“Lepas cok, nanti aku jadi gatel-gatel.” Ucap Ara sembari memberontak agar Darren melepaskan cengkramannya.
“Cokk, mbok pikir Koko mu ini apa iso e menyebabkan kamu gatel-gatel hah???” protes Darren sambil melepaskan Ara yang langsung kembali menepuk keras punggung Darren.
Si Sulung yang sedang melewati kamar mereka pun membuka suara, “Mei lapose kamu iku, bendino tukaran ae sama kokomu. mbokyo ndang bersih bersih lak enak se daripada berantem ae.” Katanya membuat Ara yang masih melayangkan pukulan terhadap Darren jadi menoleh.
“Aku se seng di salahno, mesti aku og ancen. Gak Cece gak Abang mesti nyalahno aku.” Sahut Ara sembari sesekali melirik sinis kearah Darren yang sudah memasang wajah super memelas agar dirinya mendapat belas kasih dari si Sulung.
“Yo gak gitu, kamu ki wes besar gak cilik lagi jadi gausah bertingkah koyok anak kecil gitu yaapa.” Sahut si Sulung sambil menghampiri Ara yang terlihat manyun lalu dengan sengaja menepuk keras punggung Darren, “Ambek adik e itu jangan dijahili terus, kamu ki wes ngerti Memei sumbu pendek gitu kok masih ae digudo in.”
Darren meringis sakit saat merasakan rasa panas menjalar dari punggungnya bekas tepukan keras dari sang kakak, “Sakit brooo. Lu kalo nepok gak kira-kira dipikir gua terminator gak berasa sakit hah??” katanya memprotes membuat Ara mencibir sebelum memilih turun dari atas ranjang.
“Cece mu mana?” tanya si Sulung kearah keduanya yang dibalas gendikan bahu dari Darren.
“Mboh.” Balas Ara sembari menarik kopernya keluar dan melangkah menuju lantai tiga.
Athena yang hendak masuk kedalam kamar itu jadi mengerutkan keningnya saat mendapati Ara keluar dengan membawa koper miliknya, “Kate kemana kamu Me” tanya Athena
Gadis berkepang dua itu meliriknya sinis sebelum melenggang pergi, “Ngeseng” Jawab nya sarkas.
Athena hanya menganga mendengar sahutan super jengkel dari sang adik, lalu matanya mengarah pada Darren yang duduk manis diatas ranjang bermain ponsel, “Lapose kamu iku Ren, senengane mbikin Ara ngamuk ae, iki iku kamare memei emang, mbokyo ngalah kenapa seh ambek adikke ikuuuu” Ucap Athena sambil melempar bantal dan mencubit Darren yang dibalas cengiran super ngeselin dari pemuda itu.
Minggu pagi kali ini, disaat Athena bersama dengan Ian sedang bercekcok perkara Harley Davidson milik lelaki itu nggak kebagian garasi, beberapa warga kompleks yang memang sedang jogging bersama itu jadi melipir mampir.
“Loalah ini tah tetangga baru ne kita, selamat pagi yo buat kalian semua. Semoga betah ndek sini” Ucap Apo yang lebih dulu menyapa, masih menenteng kresek hitam berisi mangga yang dipetiknya dari rumah keluarga Jeremy dan Yosi.
Ian dan Vivi yang melihat hanya tersenyum dan membalas seadanya, “Hehe iya, makasih ya Om, salam kenal juga. Ayo masuk Om, perkenalan tetangga baru,” kata Ian sembari mempersilahkan semuanya masuk.
Apo, Biu, Tony, Yosi, Baskara dan Nolan yang memang datang bergerombol jadi merangsek masuk berkunjung ke rumah penghuni baru itu dengan niat mengakrabkan diri.
“Kenalin yo namaku Biru, opo manggile om biu yo gaapa” kata Biu memperkenalkan diri sembari memandangi Athena didepannya.
“Kamu sapa namae? kok cuwantek ngene seh yo heran aku. Sebenere aku pengen ngono nduwe anak wedok, eh lakok malah oleh lanang” Kali ini gantian Yosi yang berbicara membuat Athena hanya dapat mengembangkan senyumnya sebab dipuji oleh tetangga barunya.
“Loh ini orangtuane kemana?” Tanya Tony setelah dirinya menikmati intertior yang super modern dengan aksen musik dibeberapa dinding diruang tamu.
Athena jadi menegakkan punggung saat ditanyai, “Itu, Papi sama Mami kerja shuk, wes lama ndak pulang og. Masih sibuk poll,” balas gadis itu membuat Tony mengangguk paham.
“Oh ngunu, yo podo ae sama bapake Dewa, sukane kerja ndek luar negeri. Itu Papi Mami mu tinggal ndek mana??” sahut Apo sembari melemparkan tanya, “Itu di Los Angeles, Om, tapi yo kadang di Korea. Gak tentu sih soale aku juga gak tau.” Sahut Athena sembari terkekeh diakhir kalimatnya.
“Katane kalian berempat yo, lah mana seng dua ne?” Tanya Baskara sambil celingukan.
“Oh iya, bentar tak panggilke Om, ini diminum sek. Sepurane loh Om, adane cuma espresso, belum belanja soale.” Sahut Ian sembari menaruh satu nampan berisi 6 cangkir espresso sebelum berbalik dan menaiki tangga guna memanggil dua adiknya.
Darren dan Ara yang baru saja mandi itupun menyapa dan melemparan senyum kearah tetangga baru yang duduk manis di sofa ruang tamu mereka.
“Haduh, isok ganteng ambek cantik ngene yo,” Yosi menuju arah Ara dan menepuk pelan bahu gadis itu. “Loh sapa nama e ini??? Om nanya belom dijawab loh tadi.” Kata Yosi sembari menolehkan pandangannya kearah Athena dibelakangnya yang kontan terkekeh pelan.
“Oh iyaa, aku Athena, biasa e dipanggil Nana. Ini Bang Ian seng Sulung. Ini Darren dan Ara adekku ,” Athena memperkenalkan anggota keluarganya kepada penghuni lama membuat semuanya mengangguk paham sebelum Yosi mengelus pelan puncak kepala Athena lalu kembali duduk.
Mereka pun melanjutkan perbincangan hingga saling bercenda gurau dan saling menguarkan tawa membuat mereka menjadi akrab dengan para penghuni lama kompleks.
“Darimana tah kamu iki, pagi-pagi kok wes senuym-senyum kayak habis dapet bahan ghibah anyar.” celetuk Michael sambil menyeruput kopi paginya di halaman belakang rumah saat Apo mendekat dengan senyuman yang masih terpatri diwajahnya.
“Ituloh aku habis nyapa tetangga baru seng ndek depan rumah, walah anake loh cwantik ambek ganteng anggite” Balas Apo antusias sembari ikut mendudukkan diri di ayunan kayu.
Dewa yang memang berada dipinggir kolam berenang pun jadi tertarik dan beralih menghampiri keduanya.
“Siapa Popp namae?” tanya Dewa membuat Apo menolehkan pandangannya dan jadi menggeser duduknya agar sang bungsu dapat bergabung.
Apo terlihat berpikir sebelum menyeletuk, “Ian, Athena, Darren, sama Arabella gitu kayak e yo.”
“Lakok kayae, popo ini yaapa og” Dewa memprotes sebab Apo memberi informasi yang tidak akurat.
Apo jadi mendecak, “Yo sana loh kamu nek pengen kenalan, wong yo nang ngarep pas rumahe” katanya membuat Dewa mencibir.
“Dewww, Dewaaaaa” teriak seseorang dari dalam rumah membuat Dewa yang baru saja duduk jadi mendecak sebal.
“Haduh opose, ga enak enak i orang sedang mager kok emang Kak Jeno iku” Dewa berbicara dengan jengkel kearah Pippi dan Poppi nya.
Jeno dari dalam jadi mendecak keras sebab panggilannya tak kunjung dihiraukan oleh adiknya itu, lalu berakhir mendatangi sembari berkacak pinggang, “Kamu iki dublek opo piye? dipanggili ket tadi ga ndang nyaut o” kata Jeno jengkel membuat Dewa jadi mencibir.
“Yo Kakak, menggangu saja waktu ku leha-leha. Mesti meh mbok kongkon mbelikno bubur ndek depan. Males wes malesss.” Sahut anak itu membuat Michael dan Apo jadi terkekeh dengan pertengkaran yang tak kunjung usai dari keduanya
Setelah melakukan perdebatan yang cukup lama, akhirnya Dewa tetap bersikeras pada keputusannya. Tidak mau menuruti perintah Jeno yang menyuruhnya membelikannya bubur.
Jeno lalu mendecak keras sebelum melangkah keluar rumah melalui samping sembari mengeluarkan sepeda gunungnya dari garasi untuk membeli bubur didepan kompleks.
“Loh Ra, kok kamu ndek sini? ngapain?” seru Jeno menyapa saat dirinya keluar dari rumah bergerbang tinggi itu dan mendapati Ara yang sedang membawa anjingnya berjalan-jalan di sekitar kompleks.
Gadis yang memakai beanie itu gelagapan bak bertemu dengan Mark NCT —Idolanya, “Aku lohh pindah ndek sini, menurutmu ngapain?” Jawabnya sarkas membuat Jeno kontan terkekeh gemas.
“Iyata? rumahmu sebelah mana?” Tanya Jeno sembari membawa sepedanya mendekat.
Ara lalu menunjuk ke arah rumah yang lumayan besar di depan rumah milik pemuda itu, “Depan itu lak rumahku to.”
“Wihh jadi tetangga yo sekarang. Tapi nek setau ku sih itu rumah berhantu, Ra.” sahut Jeno menggoda membuat Ara mendecak sebal.
“Ndak takut lah, aku bisa silat.” seru Ara sembari melenggang pergi meninggalkan Jeno yang hanya tersenyum manis.
Ara kemudian merutuk disepanjang jalan sebab dirinya yang ingin sekali menghindari kontak dengan Jeno, namun Tuhan dan Bang Ian nya mempertemukan mereka di kompleks yang sama. “Haisshh, mboh lahh.” gumam gadis itu sembari menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan.
—
Athena yang baru saja keluar dari dalam rumah tampak celingukan mencari sosok sang adik perempuannya yang tak kunjung ia temukan, dan berakhir bertanya pada sang Abang yang masih sibuk mencuci motor besarnya itu, “Meme kemana bang? kok ndek dalem ndak enek?”
Ian yang sibuk menggosok ban besar itu jadi menoleh, “Keluar tadi ambek Perro. Lapo?? Ndee ga bilang kamu tah??” sahut lelaki besar itu sambil kembali melakukan pekerjaannya.
Athena kontan menggeleng, “Endak, sama Darren juga tah pergi e??” tanya gadis itu lagi, membuat Ian jadi berdecak sebal sebelum menciprati sang adik dengan air sabun.
“Gak tau aku, ojok nanya-nanya. mbok ya dicari dewe sana loh lumayan se jalan-jalan ambek keliling kompleks.”
Athena balas mencibir dan melangkah pergi meninggalkan Ian yang masih berkutat dengan sabun dan motor besarnya. Gadis semampai ini pun akhirnya melangkah keluar rumah dan mengamati rumah-rumah disekelilingnya yang terlihat sangat mewah dengan pagar-pagar besi tinggi dan berjajar sport car didalamnya.
“Nyari alamat nya siapa mbak?”
Athena jadi menoleh saat merasa mendengar seseorang berbicara dengannya.
Athena menatap pada tiga pemuda bergerombol dengan celana pendek dan baju tanpa lengan yang tampak berkeringat, “Oh, enggak kok aku cuma pengen jalan-jalan aja” sahut Athena sembari memamerkan senyum manisnya.
Sosok yang tinggi besar itu dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi seolah baru teringat sesuatu, “ini kamu Nana yooo temene Jeka??? Pindah ndek sini kamu?” tanyanya membuat kedua kawannya jadi menatapnya heran.
Athena jadi mengangguk kala nama temannya disebutkan, “Iyo, aku pindah kesini kemarin, ini aku gek nyari adikku.” jelasnya pada sosok itu.
“Oh jadi tetangga baru, halo mbak kenalin aku Adam.” Tanpa basa-basi pemuda yang paling pendek mengulurkan tangannya pada Athena dan disambut oleh gadis itu dengan senyuman ramahnya.
“Hallo Adam, aku Athena, panggile Ce Nana atau Cece aja. Jangan mbak, terlihat sangat katrok.” sahut Athena membuat Adam jadi menyengir lucu.
Adam lalu melirik sekilas kearah pemuda disampingnya, “Kamu mau kenalan opo ndak? ojok meneng ae rupamu su.” kata pemuda itu sembari menyenggol bahu temannya yang sedari tadi diam.
“Hai, Ce, im good at algebra, i can replace your X, and you wouldn't need to figure out Y.” kata pemuda itu yang berbicara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Athena membuat gadis itu terkekeh melihat mendengar gombalan anak itu.
“You??? Pinter matematika?? Apakah i ndak salah krungu??? Gausah macem macem kon sama Cece ku.” seru Ara yang tiba-tiba datang langsung memukul tangan pemuda itu yang masih menggenggam tangan Athena dan otomatis membuyarkan lamunannya.
“Aduh rek, kenapa kamu harus jadi adeknya kakak bidadari ini.” protes pemuda itu saat mendapati Ara sudah bekacak pinggang ke arahnya.
“Dapuranmu katrok pol Ta. By the way, namaku Milan, Jeka's twins.” sahut sosok besar yang memperkenalkan diri sebagai Milan —Kembaran Jeka.
“Najisss, ngaku-ngaku ae cokk.” celetuk Adam yang langsung dapat toyoran pelan dibelakang kepalanya.
“Wes wes jangan bertengkar, thank you ya wes mau berkenalan sama aku. And buatmu, whats your name mister really good at algebra??” kata Athena sembari menunjuk kearah pemuda ditengah ketiga orang itu.
Yang ditunjuk jadi salah tingkah sembari mengulum bibir, “Nakuntara, you can call me Tara, but i prefer to be called love by you.” katanya membuat semua orang disana mencibir kecuali Athena yang malah terkekeh ringan.