vanillaeste

abelll


lala


⚠ verbal abuse


Nadine panik ketika membaca pesan yang dikirim oleh mama nya. Dia sebenarnya tidak ingin kembali ke rumah itu, rumah yang membuat Nadine memiliki memar di beberapa tubuhnya.

Papa Nadine sedang keluar membeli beberapa makanan untuk persiapan makan malam. Nadine bingung harus bagaimana, kalau orangtua nya itu bertemu pasti akan bertengkar dan saling memaki. Nadine tidak mau itu terjadi.

Gadis itu mencoba untuk menelfon Xavier tapi tak kunjung ada jawaban begitupun dengan Rachel. Nadine bingung sampai ketika dia mendengar suara mobil yang terparkir dipekarangan rumah Papanya. Netra gadis itu langsung bisa mengenali siapa pemilik brio putih ini. Mamanya.

“Nadine.. Keluar kamu Nadine, ayo kita pulang” Teriak sang Mama sambil menggedor pintu rumah itu.

Nadine tidak menjawab, dia panik dan menggigit ibu jarinya sambil menangis. Dia tau kalau dia pulang ke rumah pasti akan dihajar oleh Mamanya.

Ada beberapa menit gedoran dan terikan Mamanya masih terdengar.

“Kenapa kamu kesini, Risa.” Papa Nadine menghentikan tidakan Mamanya.

“Mau ambil Nadine. Berani beraninya kamu ambil Nadine dari saya, Farhan.” Balas Risa dengan angkuh.

“Nadine bukan barang yang bisa saya ambil. Nadine anak saya”

“Jangan banyak bicara, cepat buka pintu dan bawa Nadine keluar” Perintah Risa kepada Farhan.

“Risa, selama ini apa yang kamu perbuat? Nadine kenapa banyak lebam di tubuhnya? Saya selama membesarkan Nadine, tidak pernah saya mencubit dia.”

“Nadine sering jatuh, cepat panggil Nadine atau saya dobrak pintu ini” Ucapnya berbohong sambil menendang pintu coklat yang berdiri kokoh itu.

Cklekk...

Nadine membuka pintu dengan mata yang merah karena menangis mendengar orangtua nya bertengkar kembali. Nadine tidak sanggup mendengar terlalu banyak hingga membuatnya untuk keluar kamar dan membuka pintu itu.

“Nadine udah disini ma, ayo kita pulang” Dengan suara gemetar dan mata yang siap untuk mengeluarkan air didalamnya itu Nadine melangkah maju ke hadapan Papanya.

“Nadine pulang ya pa, makasih udah bolehin Nadine mampir” Nadine tidak sanggup lagi menahan tangisnya ketika melihat wajah sang Papa.

“Iya nak, kapan kapan mampir lagi ya sayang” Ucapnya sambil mengusap pipi Nadine dan mencium kening gadis itu.

“Nggak ada kapan kapan, Nadine nggak perlu kesini lagi” Ucap mama Nadine sambil menarik tangan gadis itu dan menyeretnya masuk ke mobil.


“Mau kamu ini apa sebenernya? Kamu udah mama sekolahin, udah mama biayain. Tinggal nurut aja apa susahnya sih Nadine?” Mamanya berteriak kepada Nadine yang hanya bisa duduk di bawah sambil menundukkan kepalanya.

“Anak nggak tau di untung banget kamu ini, mama ini capek Nad kerja buat kamu, sekali aja ngertiin mama bisa nggak!!” Bentaknya sambil sesekali menendang Nadine.

“Udah Ma, nanti kaki mama sakit” Ucap seorang gadis sambil membawa ipad ditangannya. Tara.

Tara adalah anak dari Ayah tiri Nadine yang kini juga tinggal bersama dalam satu atap.

“Lihat, lihat Tara. Dia selalu peduli sama Mama dan dia selalu ada kalau Mama lagi butuh. Nggak kayak kamu. Anak nggak berguna kamu Nadine.” Tangis Nadine pecah kala mendengar ucapan itu terucap dari seseorang yang melahirkan dia. Terucap dari surga nya. Nadine sudah benar benar tidak sanggup untuk terus berada di rumah itu.

“Nadine capek ma, Nadine mau istirahat” Dia langsung berlari menuju kamarnya sambil menangis.

Nadine terus menangis sambil memikirkan perkataan Mamanya yang bilang bahwa ia anak yang tidak berguna.

Jam sudah menunjukan waktu hampir subuh, Nadine sudah mengemasi barangnya dan bersiap untuk meninggalkan rumah tersebut.

Tepat pukul empat pagi. Nedine sudah meninggal kan tempat itu. Tempat yang sangat menyakitkan untuk Nadine.


⚠ verbal abuse


Nadine panik ketika membaca pesan yang dikirim oleh mama nya. Dia sebenarnya tidak ingin kembali ke rumah itu, rumah yang membuat Nadine memiliki memar di beberapa tubuhnya.

Papa Nadine sedang keluar membeli beberapa makanan untuk persiapan makan malam. Nadine bingung harus bagaimana, kalau orangtua nya itu bertemu pasti akan bertengkar dan saling memaki. Nadine tidak mau itu terjadi.

Gadis itu mencoba untuk menelfon Xavier tapi tak kunjung ada jawaban begitupun dengan Rachel. Nadine bingung sampai ketika dia mendengar suara mobil yang terparkir dipekarangan rumah Papanya. Netra gadis itu langsung bisa mengenali siapa pemilik brio putih ini. Mamanya.

“Nadine.. Keluar kamu Nadine, ayo kita pulang” Teriak sang Mama sambil menggedor pintu rumah itu.

Nadine tidak menjawab, dia panik dan menggigit ibu jarinya sambil menangis. Dia tau kalau dia pulang ke rumah pasti akan dihajar oleh Mamanya.

Ada beberapa menit gedoran dan terikan Mamanya masih terdengar.

“Kenapa kamu kesini, Risa.” Papa Nadine menghentikan tidakan Mamanya.

“Mau ambil Nadine. Berani beraninya kamu ambil Nadine dari saya, Farhan.” Balas Risa dengan angkuh.

“Nadine bukan barang yang bisa saya ambil. Nadine anak saya”

“Jangan banyak bicara, cepat buka pintu dan bawa Nadine keluar” Perintah Risa kepada Farhan.

“Risa, selama ini apa yang kamu perbuat? Nadine kenapa banyak lebam di tubuhnya? Saya selama membesarkan Nadine, tidak pernah saya mencubit dia.”

“Nadine sering jatuh, cepat panggil Nadine atau saya dobrak pintu ini” Ucapnya berbohong sambil menendang pintu coklat yang berdiri kokoh itu.

Cklekk...

Nadine membuka pintu dengan mata yang merah karena menangis mendengar orangtua nya bertengkar kembali. Nadine tidak sanggup mendengar terlalu banyak hingga membuatnya untuk keluar kamar dan membuka pintu itu.

“Nadine udah disini ma, ayo kita pulang” Dengan suara gemetar dan mata yang siap untuk mengeluarkan air didalamnya itu Nadine melangkah maju ke hadapan Papanya.

“Nadine pulang ya pa, makasih udah bolehin Nadine mampir” Nadine tidak sanggup lagi menahan tangisnya ketika melihat wajah sang Papa.

“Iya nak, kapan kapan mampir lagi ya sayang” Ucapnya sambil mengusap pipi Nadine dan mencium kening gadis itu.

“Nggak ada kapan kapan, Nadine nggak perlu kesini lagi” Ucap mama Nadine sambil menarik tangan gadis itu dan menyeretnya masuk ke mobil.


“Mau kamu ini apa sebenernya? Kamu udah mama sekolahin, udah mama biayain. Tinggal nurut aja apa susahnya sih Nadine?” Mamanya berteriak kepada Nadine yang hanya bisa duduk di bawah sambil menundukkan kepalanya.

“Anak nggak tau di untung banget kamu ini, mama ini capek Nad kerja buat kamu, sekali aja ngertiin mama bisa nggak!!” Bentaknya sambil sesekali menendang Nadine.

“Udah Ma, nanti kaki mama sakit” Ucap seorang gadis sambil membawa ipad ditangannya.

Tara adalah anak dari Ayah tiri Nadine yang kini juga tinggal bersama dalam satu atap.

“Lihat, lihat Tara. Dia selalu peduli sama Mama dan dia selalu ada kalau Mama lagi butuh. Nggak kayak kamu. Anak nggak berguna kamu Nadine.” Tangis Nadine pecah kala mendengar ucapan itu terucap dari seseorang yang melahirkan dia. Terucap dari surga nya. Nadine sudah benar benar tidak sanggup untuk terus berada di rumah itu.

“Nadine capek ma, Nadine mau istirahat” Dia langsung berlari menuju kamarnya sambil menangis.

Nadine terus menangis sambil memikirkan perkataan Mamanya yang bilang bahwa ia anak yang tidak berguna.

Jam sudah menunjukan waktu hampir subuh, Nadine sudah mengemasi barangnya dan bersiap untuk meninggalkan rumah tersebut.

Tepat pukul empat pagi. Nedine sudah meninggal kan tempat itu. Tempat yang sangat menyakitkan untuk Nadine.


⚠ verbal abuse


Nadine panik ketika membaca pesan yang dikirim oleh mama nya. Dia sebenarnya tidak ingin kembali ke rumah itu, rumah yang membuat Nadine memiliki memar di beberapa tubuhnya.

Papa Nadine sedang keluar membeli beberapa makanan untuk persiapan makan malam. Nadine bingung harus bagaimana, kalau orangtua nya itu bertemu pasti akan bertengkar dan saling memaki. Nadine tidak mau itu terjadi.

Gadis itu mencoba untuk menelfon Xavier tapi tak kunjung ada jawaban begitupun dengan Rachel. Nadine bingung sampai ketika dia mendengar suara mobil yang terparkir dipekarangan rumah Papanya. Netra gadis itu langsung bisa mengenali siapa pemilik brio putih ini. Mamanya.

“Nadine.. Keluar kamu Nadine, ayo kita pulang” Teriak sang Mama sambil menggedor pintu rumah itu.

Nadine tidak menjawab, dia panik dan menggigit ibu jarinya sambil menangis. Dia tau kalau dia pulang ke rumah pasti akan dihajar oleh Mamanya.

Ada beberapa menit gedoran dan terikan Mamanya masih terdengar.

“Kenapa kamu kesini, Risa.” Papa Nadine menghentikan tidakan Mamanya.

“Mau ambil Nadine. Berani beraninya kamu ambil Nadine dari saya, Farhan.” Balas Risa dengan angkuh.

“Nadine bukan barang yang bisa saya ambil. Nadine anak saya”

“Jangan banyak bicara, cepat buka pintu dan bawa Nadine keluar” Perintah Risa kepada Farhan.

“Risa, selama ini apa yang kamu perbuat? Nadine kenapa banyak lebam di tubuhnya? Saya selama membesarkan Nadine, tidak pernah saya mencubit dia.”

“Nadine sering jatuh, cepat panggil Nadine atau saya dobrak pintu ini” Ucapnya berbohong sambil menendang pintu coklat yang berdiri kokoh itu.

Cklekk...

Nadine membuka pintu dengan mata yang merah karena menangis mendengar orangtua nya bertengkar kembali. Nadine tidak sanggup mendengar terlalu banyak hingga membuatnya untuk keluar kamar dan membuka pintu itu.

“Nadine udah disini ma, ayo kita pulang” Dengan suara gemetar dan mata yang siap untuk mengeluarkan air didalamnya itu Nadine melangkah maju ke hadapan Papanya.

“Nadine pulang ya pa, makasih udah bolehin Nadine mampir” Nadine tidak sanggup lagi menahan tangisnya ketika melihat wajah sang Papa.

“Iya nak, kapan kapan mampir lagi ya sayang” Ucapnya sambil mengusap pipi Nadine dan mencium kening gadis itu.

“Nggak ada kapan kapan, Nadine nggak perlu kesini lagi” Ucap mama Nadine sambil menarik tangan gadis itu dan menyeretnya masuk ke mobil.


“Mau kamu ini apa sebenernya? Kamu udah mama sekolahin, udah mana biayain. Tinggal nurut aja apa susahnya sih Nadine?” Mamanya berteriak kepada Nadine yang hanya bisa duduk di bawah sambil menundukkan kepalanya.

“Anak nggak tau di untung banget kamu ini, mama ini capek Nad kerja buat kamu, sekali aja ngertiin mama bisa nggak!!” Bentaknya sambil sesekali menendang Nadine.

“Udah Ma, nanti kaki mama sakit” Ucap seorang gadis sambil membawa ipad ditangannya.

“Lihat, lihat Tara. Dia selalu peduli sama Mama dan dia selalu ada kalau Mama lagi butuh. Nggak kayak kamu. Anak nggak berguna kamu Nadine.” Tangis Nadine pecah kala mendengar ucapan itu terucap dari seseorang yang melahirkan dia. Terucap dari surga nya. Nadine sudah benar benar tidak sanggup untuk terus berada di rumah itu.

“Nadine capek ma, Nadine mau istirahat” Dia langsung berlari menuju kamarnya sambil menangis.

Nadine terus menangis sambil memikirkan perkataan Mamanya yang bilang bahwa ia anak yang tidak berguna.

Jam sudah menunjukan waktu hampir subuh, Nadine sudah mengemasi barangnya dan bersiap untuk meninggalkan rumah tersebut.

Tepat pukul empat pagi. Nedine sudah meninggal kan tempat itu. Tempat yang sangat menyakitkan untuk Nadine.


cw. verbal abuse


Nadine panik ketika membaca pesan yang dikirim oleh mama nya. Dia sebenarnya tidak ingin kembali ke rumah itu, rumah yang membuat Nadine memiliki memar di beberapa tubuhnya.

Papa Nadine sedang keluar membeli beberapa makanan untuk persiapan makan malam. Nadine bingung harus bagaimana, kalau orangtua nya itu bertemu pasti akan bertengkar dan saling memaki. Nadine tidak mau itu terjadi.

Gadis itu mencoba untuk menelfon Xavier tapi tak kunjung ada jawaban begitupun dengan Rachel. Nadine bingung sampai ketika dia mendengar suara mobil yang terparkir dipekarangan rumah Papanya. Netra gadis itu langsung bisa mengenali siapa pemilik brio putih ini. Mamanya.

“Nadine.. Keluar kamu Nadine, ayo kita pulang” Teriak sang Mama sambil menggedor pintu rumah itu.

Nadine tidak menjawab, dia panik dan menggigit ibu jarinya sambil menangis. Dia tau kalau dia pulang ke rumah pasti akan dihajar oleh Mamanya.

Ada beberapa menit gedoran dan terikan Mamanya masih terdengar.

“Kenapa kamu kesini, Risa.” Papa Nadine menghentikan tidakan Mamanya.

“Mau ambil Nadine. Berani beraninya kamu ambil Nadine dari saya, Farhan.” Balas Risa dengan angkuh.

“Nadine bukan barang yang bisa saya ambil. Nadine anak saya”

“Jangan banyak bicara, cepat buka pintu dan bawa Nadine keluar” Perintah Risa kepada Farhan.

“Risa, selama ini apa yang kamu perbuat? Nadine kenapa banyak lebam di tubuhnya? Saya selama membesarkan Nadine, tidak pernah saya mencubit dia.”

“Nadine sering jatuh, cepat panggil Nadine atau saya dobrak pintu ini” Ucapnya berbohong sambil menendang pintu coklat yang berdiri kokoh itu.

Cklekk...

Nadine membuka pintu dengan mata yang merah karena menangis mendengar orangtua nya bertengkar kembali. Nadine tidak sanggup mendengar terlalu banyak hingga membuatnya untuk keluar kamar dan membuka pintu itu.

“Nadine udah disini ma, ayo kita pulang” Dengan suara gemetar dan mata yang siap untuk mengeluarkan air didalamnya itu Nadine melangkah maju ke hadapan Papanya.

“Nadine pulang ya pa, makasih udah bolehin Nadine mampir” Nadine tidak sanggup lagi menahan tangisnya ketika melihat wajah sang Papa.

“Iya nak, kapan kapan mampir lagi ya sayang” Ucapnya sambil mengusap pipi Nadine dan mencium kening gadis itu.

“Nggak ada kapan kapan, Nadine nggak perlu kesini lagi” Ucap mama Nadine sambil menarik tangan gadis itu dan menyeretnya masuk ke mobil.


“Mau kamu ini apa sebenernya? Kamu udah mama sekolahin, udah mana biayain. Tinggal nurut aja apa susahnya sih Nadine?” Mamanya berteriak kepada Nadine yang hanya bisa duduk di bawah sambil menundukkan kepalanya.

“Anak nggak tau di untung banget kamu ini, mama ini capek Nad kerja buat kamu, sekali aja ngertiin mama bisa nggak!!” Bentaknya sambil sesekali menendang Nadine.

“Udah Ma, nanti kaki mama sakit” Ucap seorang gadis sambil membawa ipad ditangannya.

“Lihat, lihat Tara. Dia selalu peduli sama Mama dan dia selalu ada kalau Mama lagi butuh. Nggak kayak kamu. Anak nggak berguna kamu Nadine.” Tangis Nadine pecah kala mendengar ucapan itu terucap dari seseorang yang melahirkan dia. Terucap dari surga nya. Nadine sudah benar benar tidak sanggup untuk terus berada di rumah itu.

“Nadine capek ma, Nadine mau istirahat” Dia langsung berlari menuju kamarnya sambil menangis.

Nadine terus menangis sambil memikirkan perkataan Mamanya yang bilang bahwa ia anak yang tidak berguna.

Jam sudah menunjukan waktu hampir subuh, Nadine sudah mengemasi barangnya dan bersiap untuk meninggalkan rumah tersebut.

Tepat pukul empat pagi. Nedine sudah meninggal kan tempat itu. Tempat yang sangat menyakitkan untuk Nadine.

Tepat pukul setengah dua belas malam, Xavier sudah sampai di tempat bengkel Sylus yang luasnya mungkin sudah bisa digunakan untuk pertandingan basket. Sangat luas dan besar. Bahkan kau harus memiliki kartu id untuk bisa masuk kedalam bengkel tersebut.

Sylus telah memberikan acces untuk Xavier sehingga dia bisa masuk dengan mudah tanpa ada halangan apapun. Xavier melajukan motor zx25r nya yang berwarna hitam itu memasuki area bengkel lalu berhenti tepat dihadapan seorang pria yang dikenalinya. Sylus.

“Kok masih sepi? Pada kemana? ” Tanya Xavier sambil melepas helm fullface nya itu.

Sylus melihat jam tangan yang sedang dikenakannya “Bentar lagi paling, kayaknya masih pada beli makan”

Xavier mengangguk dan kedua nya duduk di ruangan yang mirip seperti tempat meeting. Xavier melihat banyak sekali motor yang terjejer rapih lengkap dengan paddock yang sedang menyangga depan belakang.

“Yang masih standart ada di sebelah kanan lo,” Ucap Sylus sambil menuang minumannya.

Xavier langsung msncari keberadaan kuda besi itu. Ternyata motor yang akan dia setting adalah motor yang sama seperti punya dia ZX25R.

“Itu yang ZX6R lo ngga mau pake? ” Xavier malah fokus nya ke motir motor yang ada di samping ZX25R.

Sylus tertawa karena Xavier tertarik kepada motor yang itu.

“Nanti lah bisa kita omongin kalo udah pada kesini” Balas Sylus.

Sekitar kurang lebih dua puluh menit, Zayne dan Rafayel sudah datang. Mereka berdua berboncengan menaiki motor NMAX warna hitam.

“Weh udah sampe aja lo, udah lama nunggunya?” Rafayel menyambut.

“Mayan lah, udah dari jam sepuluh gue disini” Goda Xavier

“Apaan, orang gue keluar setengah sebelas ya anjing,”

Kini mereka duduk dan berbincang mengenai event Manila yang diadakan bulan depan. Bukan cowo namanya kalo ngobrol ngga pake nyebat.

“Gue kira lo anti rokok” Ucap Rafayel pada Xavier yang sedang menyalakan rokoknya.

“Ngga sering sih”

“Jadi intinya, Xavier mau settingin motor yang bakal gue pake di race manila nanti” Potong Sylus di tengah obrolan rokok dua orang tadi.

“Sejak kapan lo di dunia otomotif? kok gue gak pernah denger” Imbuh Zayne.

“Dulu bokap gue ada bengkel, bisa lah gue dikit.”

“Butuh waktu berapa lama, Xav? Mau tiga minggu?” Tanya sylus.

“Dua minggu, gue kerjain di bengkel lo” Xavier menjawab dengan yakin.

“Setelah dua minggu lo bisa tuh test drive sama gue. Bengkel lo ada kan buat test drive? lo pake motor yang gue setting.”

“Gue bakal bawa lo ke podium satu di Manila. Kalo ngga podium terserah mau lo sita motor gue mah ayok aja” Ucapan Xavier mendapat atensi dari ketiga rekannya dan bangga akan sikap percaya diri Xavier.

“Oke deal, bisa diatur.”

Sudah hampir dua jam Alan dan Evelyn menghabiskan waktunya di sekitar sungai yang berada tak jauh dari tempat mereka makan tadi.

Mereka duduk saling bersebelahan diatas rumput hijau, cuaca juga mendukung karena hari ini sedang cerah dan enak untuk bersantai sambil menikmati air yang mengalir.

“Alan, aku boleh nanya sesuatu nggak?” Tanya Evelyn sembari menatap ke arah alan.

Alan pun menoleh “Iya boleh, tanya apa lin”

Evelyn tampak membasahi bawah bibirnya seraya mempersiapkan pertanyaan yang akan ditujukan kepada Alan.

“Kamu masih suka kepikiran ya sama Runi?” Tanpa basa-basi, Evelyn langsung tepat sasaran menyebutkan nama Runi—mantan alan—

Alan tidak terkejut bahkan dia sangat tenang mendapat pertanyaan seperti itu dari Evelyn.

“Iya terkadang, tapi seringnya engga lin. Aku sering lupa sama dia kalau lagi sama kamu, aku lebih suka ngabisin waktu buat jalan-jalan sama kamu daripada aku diem aja dirumah”

Alan tampak menggantung ucapannya dan menurunkan pandangan dia kebawah “Kadang juga kangen sama Runi, tapi aku gak tau dia sekarang ada dimana” Imbuhnya.

Melihat Evelyn yang nampak murung setelah ia melontarkan omongan terakhirnya, Alan segera mengusap pucuk kepala Evelyn dengan tersenyum “Udah gak usah dipikir lin, sekarang kan aku sama kamu.”

“Maksudnya apa ya mon maap” Balas Evelyn sedikit sinis. Alan hanya tertawa melihat Evelyn yang kesal karena dirinya.

Waktu berlalu begitu cepat karena mereka lewati dengan berbagai tawa dan cerita yang saling dibagikan satu sama lain. Dan sepertinya senja juga sudah mulai menampakkan dirinya.

“Kita udah lama banget ya lan saling jalan berdua kayak gini hahaha” Kata Evelyn tanpa memandang Alan.

“Iya, kenapa? Kamu bosen ya?” Jawab Alan.

“Engga sih, kali aja kamu yang bosen”

“Engga lin, aku seneng kok bisa ngabisin waktu sama kamu.”

Keduanya saling diam lagi sampai waktu pun hampir gelap.

“Pulang ayo, udah mau malem” Ajak Alan sambil berdiri.

Evelyn masih disana, dia sibuk dengan isi kepalanya yang berkata udah sih lo confess aja ke alan, ntar keburu mantannya balik anjir lin

Alan menyadari itu dan dia segera menepuk bahu Evelyn “Lin”

“Hah iya gue sayang sama lo lan” Evelyn yang kaget dan tidak menyadari apa yang barusan dia katakan. Dia pun segera menutup mulutnya dengan rapat, wajahnya nampak merah karena menahan malu.

Alan pun terkekeh dan kembali mengacak rambut Evelyn “Udah ayo pulang” Alan menggandeng tangan Evelyn untuk menuju mobil.


Disepanjang jalan menuju rumah, Evelyn diam seribu bahasa entah karena dia malu atau dia sedang menyiapkan amunisi untuk mengutarakan perasaannya kepada Alan.

“Gak salah denger ya aku tadi?” Sial, Alan malah bertanya tentang hal itu.

Evelyn masih menutup mulutnya rapat dan tidak mau menatap Alan.

“Mana tadi bilangnya pake gue gue,” Imbuh Alan sambil sedikit tertawa.

“Kalau beneran sayang tuh bilang yang bener,” Alan terus meledek Evelyn dan terus mengungkitnya.

Evelyn menggigit bibir bawahnya dan memainkan jarinya.

“Jangan gitu, nanti berdarah loh” Alan memegang tangan Evelyn dan dia malah menggenggam tangan Evelyn.

Evelyn yang bingung pun menatap Alan dengan wajah yang merah, Alan menoleh ke arah Evelyn sambil tersenyum “Coba tadi diulangi ngomongnya”

“Apasih lan itu mulu yang dibahas”

Alan terkekeh melihat wajah Evelyn yang merah itu, dia masih menggenggam tangan Evelyn.

Alan menepi di pinggiran jalan dan mengubah duduk nya menghadap kepada Evelyn.

“Mau nyoba jalanin lebih dari teman?” Dorrr Alan tanpa celah langsung menanyakan hal itu.

Dada Evelyn berdegup sangat kencang ketika mendapat pertanyaan itu dan dia tak hentinya mengedipkan mata tanpa berpaling pandang dari wajah Alan.

“Jawab Evelyn, kenapa malah diem aja” Alan membuyarkan lamunan Evelyn dengan mencubit pipi Evelyn.

aaaaakkhhhhh emang boleh secepat itu lan, aduh gue harus gimana bjirrr lannnnn Evelyn kembali dengan kepalanya yang berisik.

Kini Evelyn memandang lekat wajah Alan, dipandanginya tanpa melewatkan satu bagian pun dari wajahnya. Tuhan, betapa sempurnanya ciptaanmu ini. Ya kira-kira seperti itulah yang dipikirkan Evelyn.

Dengan menghela nafas panjang, Evelyn memberikan jawaban kepada Alan “Alan, kalau kita lebih dari teman. Bisa gak kamu lupain semua tentang Runi?”

Alan kini mempererat genggaman tangannya dan tersenyum kembali “Iya, aku bisa lin”

Keduanya kini saling tersenyum dan Ya, akhirnya mereka berdua resmi mengubah status teman menjadi kekasih. Semoga apa yang ditakutkan Evelyn tidak terjadi dan semoga Alan bisa menepati ucapannya.

Sudah hampir dua jam Alan dan Evelyn menghabiskan waktunya di sekitar sungai yang berada tak jauh dari tempat mereka makan tadi.

Mereka duduk saling bersebelahan diatas rumput hijau, cuaca juga mendukung karena hari ini sedang cerah dan enak jika untuk bersantai sambil menikmati air yang mengalir.

“Alan, aku boleh nanya sesuatu nggak?” Tanya Evelyn sembari menatap ke arah alan.

Alan pun menoleh “Iya boleh, tanya apa lin”

Evelyn tampak membasahi bawah bibirnya seraya mempersiapkan pertanyaan yang akan ditujukan kepada Alan.

“Kamu masih suka kepikiran ya sama Runi?” Tanpa basa-basi, Evelyn langsung tepat sasaran menyebutkan nama Runi—mantan alan—

Alan tidak terkejut bahkan dia sangat tenang mendapat pertanyaan seperti itu dari Evelyn.

“Iya terkadang, tapi kebanyakan engga lin. Aku sering lupa sama dia kalau lagi sama kamu, aku lebih suka ngabisin waktu buat jalan-jalan sama kamu daripada aku diem aja dirumah”

Alan tampak menggantung ucapannya dan menurunkan pandangan dia kebawah “Kadang juga kangen sama Runi, tapi aku gak tau dia sekarang ada dimana” Imbuhnya.

Melihat Evelyn yang nampak murung setelah ia melontarkan omongan terakhirnya, Alan segera mengusap pucuk kepala Evelyn dengan tersenyum “Udah gak usah dipikir lin, sekarang kan aku sama kamu.”

“Maksdunya apa ya mon maap” Balas Evelyn sedikit sinis. Alan hanya tertawa melihat Evelyn yang kesal karena dirinya.

Waktu berlalu begitu cepat karena mereka lewati dengan berbagai tawa dan cerita yang saling dibagikan satu sama lain. Dan sepertinya senja juga sudah mulai menampakkan dirinya.

“Kita udah lama banget ya lan saling jalan berdua kayak gini hahaha” Kata Evelyn tanpa memandang Alan.

“Iya, kenapa? Kamu bosen ya?” Jawab Alan.

“Engga sih, kali aja kamu yang bosen”

“Engga lin, aku seneng kok bisa ngabisin waktu sama kamu.”

Keduanya saling diam lagi sampai waktu pun hampir gelap.

“Pulang ayo, udah mau malem” Ajak Alan sambil berdiri.

Evelyn masih disana, dia sibuk dengan isi kepalanya yang berkata udah sih lo confess aja ke alan, ntar keburu mantannya balik anjir lin

Alan menyadari itu dan dia segera menepuk bahu Evelyn “Lin”

“Hah iya gue sayang sama lo lan” Evelyn yang kaget dan tidak menyadari apa yang barusan dia katakan. Dia pun segera menutup mulutnya dengan rapat, wajahnya nampak merah karena menahan malu.

Alan pun terkekeh dan kembali mengacak rambut Evelyn “Udah ayo pulang” Alan menggandeng tangan Evelyn untuk menuju mobil.


Disepanjang jalan menuju rumah, Evelyn diam seribu bahasa entah karena dia malu atau dia sedang menyiapkan amunisi untuk mengutarakan perasaannya kepada Alan.

“Gak salah denger ya aku tadi?” Sial, Alan malah bertanya tentang hal itu.

Evelyn masih menutup mulutnya rapat dan tidak mau menatap Alan.

“Mana tadi bilangnya pake gue gue,” Imbuh Alan sambil sedikit tertawa.

“Kalau beneran sayang tuh bilang yang bener,” Alan terus meledek Evelyn dan terus mengungkitnya.

Evelyn menggigit bibir bawahnya dan memainkan jarinya.

“Jangan gitu, nanti berdarah loh” Alan memegang tangan Evelyn dan dia malah menggenggam tangan Evelyn.

Evelyn yang bingung pun menatap Alan dengan wajah yang merah, Alan menoleh ke arah Evelyn sambil tersenyum “Coba tadi diulangi ngomongnya”

“Apasih lan itu mulu yang dibahas”

Alan terkekeh melihat wajah Evelyn yang merah itu, dia masih menggenggam tangan Evelyn.

Alan menepi di pinggiran jalan dan mengubah duduk nya menghadap kepada Evelyn.

“Mau nyoba jalanin lebih dari teman?” Dorrr Alan tanpa celah langsung menanyakan hal itu.

Dada Evelyn berdegup sangat kencang ketika mendapat pertanyaan itu dan dia tak hentinya mengedipkan mata tanpa berpaling pandang dari wajah Alan.

“Jawab Evelyn, kenapa malah diem aja” Alan membuyarkan lamunan Evelyn dengan mencubit pipi Evelyn.

aaaaakkhhhhh emang boleh secepat itu lan, aduh gue harus gimana bjirrr lannnnn Evelyn kembali dengan kepalanya yang berisik.

Kini Evelyn memandang lekat wajah Alan, dipandanginya tanpa melewatkan satu bagian pun dari wajahnya. Tuhan, betapa sempurnanya ciptaanmu ini. Ya kira-kira seperti itulah yang dipikirkan Evelyn.

Dengan menghela nafas panjang, Evelyn memberikan jawaban kepada Alan “Alan, kalau kita lebih dari teman. Bisa gak kamu lupain semua tentang Runi?”

Alan kini mempererat genggaman tangannya dan tersenyum kembali “Iya, aku bisa lin”

Keduanya kini saling tersenyum dan Ya, akhirnya mereka berdua resmi mengubah status teman menjadi kekasih. Semoga apa yang ditakutkan Evelyn tidak terjadi dan semoga Alan bisa menepati ucapannya.

Trigger warning: heavy angst, suicidal thoughts, suicide, rape, domestic abuse, violence, blood, depression, self-harm, eating disorder, hate speech, bullying, trauma, major character death.


Recommended song: Billie Eilish – The 30th.


“Ketenangan apa yang kamu harapkan di dunia jika orang yang sudah meninggal pun masih harus didoakan supaya tenang?”

“Hamada...”

Kalau kalian merasa penasaran mengenai bagaimana rasanya menjadi seseorang yang jatuh cinta kepada seseorang yang justru jatuh cinta kepada kematian, aku rasa kalian datang ke orang yang tepat. Biarkan aku bercerita sebagai seorang Hamada Asahi, seseorang yang menjadi saksi hidup atas kelamnya kehidupan seseorang yang memiliki tendensi bunuh diri.

Jadi hari ini, izinkan aku bercerita mengenai Kanaya Arabella dan kekasih tersayangnya, kematian.

Berpasang-pasang kaki mungil berarak tanpa arah di atas basah rerumputan yang menghampar bagaikan karpet raksasa. Bagaikan tak mengenal teriknya hari, anak-anak bermain dengan riang di taman kota yang siang itu pelan namun pasti bermandi pengunjung. Ada yang berlarian tanpa arah, beberapa yang lain terlihat memegang mainan masing-masing, ada pula menjerit akan suka cita. Di belakang mereka, tampak skeneri hijaunya pepohonan taman kota yang berayun lembut karena hempasan angin. Menjadi anak kecil sepertinya seru, ya? Mereka hanya bermain dan tertawa setiap saat, bukan hidup di himpitan kecemasan setiap harinya.

Kalau kalian meneleng ke sisi lebih jauh di bawah sebuah pohon magnolia besar yang rekah bunganya sedang ranum-ranumnya, ada dua entitas manusia yang terlihat berteduh. Pohon magnolia di taman kota ini adalah satu dari sekian pohon yang tumbuh