Paket bab 1


Segera setelah membaca bubble chat yang ada di hpnya, Aksara lalu meuju kamar milik Aska.

ding dong

ding dong

“Nih anak kayaknya mati,” Aksara bermonolog sambil terus menekan bel pintu itu. Sekian menit tidak ada jawaban, Aksara lalu menggedor pintu hitam itu dengan brutal.

Dan ya benar saja, lagi-lagi Aksara dikejutkan dengan Aska yang bertelanjang dada sambil mengeringkan rambutnya mengenakan handuk berwarna putih.

“Lo kalo lagi mandi setidaknya bisa kasih tau gue ya anjir, biar gue ga nungguin lo bukain pintu lama banget sialan,” Aksara mengomel sambil melewati tubuh Aska yang masih lumayan basah itu.

Aska dengan segera menutup pintunya dan ikut masuk kedalam kamarnya bersama dengan Aksara.

Aksara kini berada di meja makan milik Aska, dia menikmati satu demi satu martabak yang berada di atas meja tersebut.

Keduanya saling bincang sambil menikmati netflix yang sedang diputar oleh Aska. Sambil sesekali Aska menuangkan minuman yang disebut wine itu ke dalam gelas milik Aksara.

Tidak terasa, Aksara sudah berada di kamar Aska lebih dari tiga jam dan kini jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aksara yang nampaknya mabuk itu pun mencoba untuk bangkit dari duduknya dan ingin kembali ke dalam kamarnya sendiri dengan badan sempoyongan.

“Eh mau kemana?” Tanya Aska sambil menahan pergelangan tangan Aksara.

Aksara hanya menunjuk ke arah pintu memberi tanda pada Aska bahwa dia ingin kembali ke kamarnya. Aska pun menuruti permintaan Aksara dan menuntunnya hingga kembali ke kamar Aksara.

plop

Aska meletakkan tubuh Aksara diatas ranjang milik Aksara, namun saat Aska hendak pergi ke kembali ke kamarnya. Dia tertahan oleh tangan Aksara yang tiba-tiba mengalungkannya di leher milik Aska.

Aksara nampak meracau dan menutup matanya, samar-samar Aska mendengar perkataan Aksara, “Lu suka sama gue kan.” Setelahnya Aksara tertawa dan meletakkan kepalanya di dada milik Aska. Jangan lupa bahwa, Aska masih bertelanjang dada.

Mendengar perkataan Aksara, Aska hanya bisa menatap lelaki didepannya dengan intens. Mulai dari mata, hidung hingga bibirnya.

Aska memberanikan diri untuk menyentuh bibir pink milik Aksara. Semakin dia menyentuhnya, semakin banyak dia menelan salivanya.

Kini tangan Aska juga mengusap pipi milik Aksara, memainkan telinga Aksara dan dia juga meniup telinga Aksara, hingga si pemilik telinga itu pun dibuat geli olehnya.

Sepertinya hasrat Aska untuk memakan Aksara sudah tidak tertahankan lagi, dirinya kini mencium bibir lembut milik Aksa yang masih tertutup itu. Dia menahan ciuman itu selama beberapa detik dan dia tersadar bahwa Aksara membuka matanya. Segera Aska pun melepaskan ciuman itu dan membuang mukanya.

“Kenapa? emang lo gamau?” Goda Aksara sambil menggingit bibir bawahnya.

Lagi-lagi hasrat Aska kembali meluap, hingga dirinya kini mengulum lembut bibir pink milik Aksara. Aksara juga membalas nya dengan lembut dan kini keduanya saling bertautan bibir.

Kecupan itu merembet ke telinga dan leher Aksara hingga Aksara menggeliat dibuatnya.

Tangan Aska tak bisa tinggal diam, ia membuka baju milik Aksara yang masih tersemat dengan rapi di tubuh Aksara yang ramping. Hingga akhirnya semuanya terlepas oleh usaha Aska.

Aska kembali mengecupi bibir ranum milik Aksara, dan tangannya kini memainkan puting merah muda milik Aksara, Aksara menggeliat dan mendesah di sela ciumannya dengan Aska.

Hingga akhirnya tangan Aska pun turun dan mengusap perut ramping milik Askara, semakin turun dan sampailah Aska membuka resleting celana yang dikenakan Aska. Perlahan Aska melepaskan celana itu dan melemparkannya ke sembarang tempat.

“Wanna fuck?” Entah kenapa Aksara tidak bisa berkata tidak atas pertanyaan yang dilontarkan Aska kepada dirinya. Hanya anggukan dan erangan yang bisa dikeluarkan oleh Aksara.

Tangan Aska yang tak kenal aturan itu mulai mengusap kejantanan milik Aksara, “Aku sinting, u said?” Kini dari hanya mengusap, dia berubah menjadi memijat kejantanan lelaki yang sudah mengerang itu.

Aska juga tak hentinya memainkan dada Aksara yang sudah sepenuhnya terbuka, bahkan dia juga memilin puting milik Aksara.

Aksara ternyata liar, hingga saat Aska memindahkan tubuh Aksara di pangkuannya pun Aksara masih terus-terusan menyesap bibir milik Aska tanpa ampun bahkan sesekali menggigitnya. Aska tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa Aksara kini sedang hilang kendali karena pengaruh wine yang beberapa waktu ditegaknya. Maka dengan lembut disertai dengan usapan di rahang, Aska akhirnya memutus ciuman panas mereka. Kini Aksara beralih menatapnya dengan tatapan bingung karena Aska melepas ciuman mereka dengan kelewat lembut.

“You are drunk, right?” Aska bertanya dengan nada yang lembut selagi melingkarkan tangannya di pinggang Aksara. Aksara menggeleng tidak yakin dan Aska terkekeh melihat sosok di hadapannya yang memberinya tatapan inosen, begitu kontradiktif dengan kondisi mereka dan juga hal yang mereka berdua lakukan bersama barusan.

“Kamu yakin?” Aska menyelipkan anak rambut Aksara yang mulai tumbuh di belakang telinga.

Aksara sangat kesulitan untuk mengucap kata, ia hanya bisa mengangguk dan memeluk leher Aska dengan erat. Rasanya begitu aneh dan terasa asing karena mereka yang notabene hanyalah tetangga dan tiba-tiba melakukan hal seperti ini.

Dan malam itu mereka berdua resmi bercinta, Aska yang telah tegang sejak lama dengan urat-uratnya yang menonjol. Pemuda itu bergerak naik turun di atas pangkuan Aska dengan Aska yang menggerayangi dan mengecupi setiap inchi tubuhnya tanpa henti.

Aska dengan senyum menawannya di tengah engah napas dan desahannya pun mengusap bulir peluh yang membasahi pelipis Aksara. “Terus Aksara, bergeraklah sesukamu.” Aska berucap di telinga Aksara selagi menghentakkan pinggangnya untuk memuaskan dirinya juga Aksara yang kini sudah terlihat bagaikan jalang di atasnya.

Mereka bercinta cukup lama dan intens hingga aroma seks menguar di seluruh kamar milik Aksara diiringi dengan suara kulit yang terdengar bagaikan alunan paling indah di telinga keduanya.


kalian bingung kan sama namanya? sama ges samaaa timakasi sudah membaca <3