Motoran Sama Sadewa

Sore-sore gini, Sadewa gabut banget dan tiba-tiba nyamperin Darren yang sedang duduk didepan bersama ketiga saudaranya.

“Lapo? tumben banget kamu keluar dari sarangmu” Ucap Darren saat melihat Dewa sudah duduk disebelahnya.

Pemuda tinggi itu tanpa ada sopannya mengambil camilan yang ada di depan dia itu, “Haduh aku gabut banget, dirumah gak ada siapa-siapa”.

“Lah emang pada kemana?” Tanya Nana.

“Biasalah pada sok sibuk,”

Mereka pun berbincang hingga suara adzan maghrib berkumandang.

“Wes sana loh ndang pulang kamu dew, sholat sana loh” Celetuk Arabella.

“Nonmus mbak nonmus”

Ke empatnya pun tertawa dengan jawaban Sadewa

“Kamu nek masih gabut, iniloh ajaken Ara jalan-jalan. Ini anak juga sama gabute ambek kamu” Perintah Ian kepada Sadewa.

Sadewa menatap Arabella dan melemparkan senyumannya serta menaik turunkan alis nya, ya emang lagi menggoda Arabella sih.

“Apa? kon kenapa masang muka mesum?” Sarkas Arabella

“Mesum loh katanya,” Jawaban yang keluar dari mulut Sadewa lagi-lagi membuat mereka tertawa.

“Jalan-jalan naik motor nya bang ian kayae seru” Nyindir banget, Sadewa tuh gak bisa naik motor kopling.

“Ah gak mau lah, mending naik mobil aja daripada naik motornya Bang Ian” Jawabnya nampak badmood.

“Yowes naik Vespa Matic nya Cece aja” Sang kakak perempuan yang baik hati ini pun menyodorkan kunci motornya yang ada gantungan stitch itu.

“Ayo dewa, kamu ojok mager aja” Arabella menarik tangan lelaki itu.

Sadewa beranjak dan menyambar kunci mobil yang ada diatas meja lalu menuju Vespa Matic yang tepat berada disebelah motor besar milik Ian.


Suara riuh kendaraan mengisi kosongnya malam yang panjang. Lampu-lampu jalan juga nampak menghiasi seisi kota ini. Dingin.

Iya dingin soalnya habis hujan, untungnya Arabella memakai jaket yang lumayan tebal, namun tidak dengan lelaki yang kini sedang menyetir menyetir untuknya.

“Mau diantar kemana mbak? Daritadi saya sudah berkeliling” Ucap Sadewa sambil mengarahkan kepalanya agak kebelakang.

Arabella menepuk bahu Dewa, “Oposeh kamu ini ah, orang baru ae jalan 5 menit loh.”

“Bell, gini ni misal kita ketemu sama Jevano yaapa yo?” Ucapnya lagi.

“Yo emang kenapa? ketemu ya ketemu aja lah, kan emang lagi dijalan dan jelas ketemu banyak orang, bisa jadi itu Jevano yokan”

“Dan naga?”

Arabella memukul keras bahu Sadewa, dan yang dipukul malah ketawa tuh sampe motornya oleng.

“Eh nanti beli cimory dulu dong, berenti tuh depan ada Alfa.” Perintah Arabella kepada Sadewa.

Sesampainya di Alfa, Sadewa gak ikut masuk jadi cuman Arabella aja yang masuk, katanya dia males ketemu mbak-mbak nya. Pas ditawarin mau apa dia juga gak mau. Yaudah.

“Nih,” Kata Arabella sambil menyodorkan minuman kopi kotak.

“Aku loh gak minta,” Jawabnya, tapi sambil masukin sedotan ke kopinya.

“Gak minta tapi doyan, dasar.”

Bella membeli yoghurt rasa strawberry, Kesukaannya.

“Seh mana, susah bener buka nya” Dewa mengambil yoghurt yang sedang dipegang oleh Bella dan membukanya.

Keduanya kini melanjutkan acara jalan-jalan mereka dan gak tau mau sampai kapan dan jam berapa.

“Kamu gak capek tah boncengin aku?” Ucap Bella dari belakang.

“Kenapa? kamu meh gantiin aku tah?”

“Ya gaapa nek kamu capek biar aku seng bonceng,” Bella menawarkan diri.

Sadewa malah tertawa mendengar ucapan yang dilontarkan Bella. Mana mungkin dia membiarkan Bella membonceng dia, “halah gausah, aku masih kuat”

Singkat cerita, mereka berenti suatu tempat sekedar melepas capek. Padahal nih ya gak jauh-jauh banget tapi ya bukan Sadewa namanya kalau ga sambat.

“Makan itu ayo, kasian gak ada seng beli” Arabella menunjuk seorang penjual sate ayam yang sedang sepi pembeli.

Keduanya menghampiri penjual itu dan segera memesan dua porsi sate lengkap dengan lontongnya.

Mereka berdua kini sedang melahap makanan mereka sambil menikmati orang yang sedang lalu lalang di jalanan.

“Enak ya bell,” Celetuk Sadewa di sela makanan mereka.

“Enak lah, ga kalah kan sama restoran mahal seng sering kamu kunjungin itu” Sindirnya.

“Aku ntik meh bawain orang rumah lah, sama itu ntik bawakno juga sodaramu” Ucap Sadewa lagi.

Arabella yang mulutnya sedang penuh sampai tidak sanggup menjawab dan hanya anggukan yang bisa dia lakukan.

Sadewa kembali terkekeh melihat tingkah gadis yang sedang makan disampingnya itu.

“Berapa bang pak totalnya semua?” Tanya Sadewa.

“Totalnya delapan puluh ribu mas”

“Nih pak, gak apa itu sisanya buat bapak aja. Lancar selalu ya pak rejekinya” Kata Sadewa lagi.

“Walah mas ini kebanyakan loh,”

“Udah pak ndak apa, makasih ya pak” Arabella menjawab sambil tersenyum kepada penjual itu.

“Nanti kapan-kapan makan disitu lagi enak kayae Bell”

“Enak, tapi agak jauh yo dari rumah” Jawab Bella.

“Ya kapan-kapan bawa mobil ajab gimana, biar gak capek” Tawar Sadewa.

“Ya terserah, kan aku tinggal ngikut”

Keduanya kini sedang menepuh perjalanan pulang. Tapi gak tau ya, ini emang Sadewa lupa sama jalan atau emang nih anak muter-muter kota.

“Kenapa lewat sini? Iniloh sepi jalan ndek sini” Protes Arabella.

“Iyo tapi ini jalan pintas bell, biar cepet”

“Kamu ndak dingin po? ga pake jaket loh, terus bajumu ini jugs tipis” Tanya bella sambil memegang baju yang di kenakan Sadewa.

“Ya sebenere dingin, coba nek mbuk peluk lak ndak dingin” Sambil cekikikan Sadewa menjawab seperti itu.

“Halah halah halah” Arabella kembali menggebuk punggung Sadewa.

“Kamu nih sukane kdrt kok Bell”


Mereka udah sampe kompleks, dan saat melewati rumah milik Nakuntara. Disana ada Jevano, adam dan juga Abimana.

Jelaslah kalo mereka nyapa, apalagi si Nakuntara. Itu anak punya mulut kadang suka rada-rada ga beres.

“Dewa, Jancok wes kencan ae rupamu” Nakuntara berteriak namun tidak dihiraukan oleh Sadewa. Dia malah melaju kan motornya tanpa menengok ke arah mereka.

“Disapa ituloh, kenapa ga dijawab bro?” Tanya Arabella.

“Halah biar, nanti lak rame di grup chat.” Jawabnya sarkas.

Sudah sampai, segera Sadewa kembali memasukkan motor milik kakak nya Arabella ke garasi.

“Udah, aku pulang ya” Pamit Sadewa ke Arabella yang memegang gerbang.

“Makasih ya Dew.” Jawabnya manis.

Sadewa tersenyum dan menghampiri Arabella kemudian memegang ujung kepala gadis itu, “Iya, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya Bell”

Mematung.

Kondisi Bella saat ini.

Soalnya apa ya, jarang banget Sadewa bersikap manis kayak gitu. Biasanya dia kan rese banget apalagi kalau sudah sama Adam. Tapi gak tau kenapa malam ini beda. Pokoknya Sadewa tuh beda. Itu pikiran Arabella.