Akhirnya hari ini datang juga, hari dimana Arabella dan ketiga kakaknya kembali ke Indonesia.
Tujuan mereka sementara ini ke kediaman utama yang berada di Indonesia. Karena mereka harus mengurus beberapa berkas kepindahan mereka dan juga mengurus pendidikan mereka juga.
“Besok yang nganter Ara ke sekolah baru siapa?” Tanya Arabella kepada para saudaranya yang kini berkumpul di ruang tengah.
“Aku sama Cecemu, Darren dirumah aja” Kata Gavian.
Sudah datang, Arabella sudah menginjakkan kakinya disekolah baru untuk mendaftar. Disana dia bertemu dengan Hanni.
“Kamu nek meh pergi sama hanni, pergi aja gaapa, ntik nek butuh apa apa tak telfon” Ucap Athena pada adik kecilnya.
Arabella bergandeng tangan dengan Hanni layaknya dua anak kecil yang sedang menyeberang jalan.
“Kamu mulai masuk kapan Bell?” Tanya Hanni sambil menyodorkan susu pisang kepadanya.
“Kayanya senin, ini Jumat kan? besok sama minggu libur jadinya masuk senin” Ucapnya sambil merobek bungkus sedotan.
Mereka berdua menikmati minumannya di lorong dekat kantor ruang guru, supaya kalau ada apa apa nanti ga terlalu jauh.
Mata Arabella menemukan sosok yang dikenalnya, —Jevano.
“Itu Jevano ya Han?”
Hanni nampak celingukan dan menemukan sosok Jevano yang tengah berjalan menuju kelas ips, “Iya itu Jevan, mau nyamper?”
Arabella kemudian mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya.
“Jevannoooooo, ihhh kamu lama banget sih kesini nyaaa, aku udah kangen tauuuu” Ucap seorang perempuas yang kini bergelendotan di lengan Jevano.
“Hehe maaf ya, Dis. Tadi aku disuruh Bu Ima nganter tugas”
“Yaudah ayo kita pulang, Aku gasabar pengen peluk peluk kamu” Katanya —Gadis.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran dan tak lupa ada Arabella dan Hanni yang sedang mengintai mereka berdua tanpa Jevano sadari.
“Jevano, peluk” Kata Gadis sambil merentangkan tangannya untuk berpelukan dengan Jevano.
Jevano mendekat ke arah Gadis dan memeluknya kemudian dia juga mengecup pipi kanan sang Gadis.
“Apa konteks nya ya Jen?” Suara Arabella bergema di seisi parkiran.
Jevano dan Gadis, mereka tentu saja terkejut dengan kehadiran Arabella.
Arabella mendekat dengan tangan yang mengepal karena dia tengah menahan emosinya yang sudah memuncak.
“Kamu ngapain Jevano? Ngapain?” Jevano tidak menjawab dan dia masih memasang wajah kagetnya.
“Kamu juga, kamu gadis kan? Jevano nge treat kamu kayak apa, Dis? Sampe kalian kayak gini?” Dengan suara gemetar Arabella memberanikan diri.
“Jawab aku Jen! Kamu nge treat dia model apa? Kayak gimana Jen! Jawab!!” Kini Arabella menaikkan volume suaranya.
“Ara, aku tau aku salah. Aku bisa jelasin.” Kata Jevano sambil memegang tangan Arabella.
Arabella melepaskan tangan Jevano dengan paksa, “Aku selama kita Ldr, aku ga pernah mikir buat nyari cowok lain Jen. Aku beneran sayang sama kamu, aku percaya sama kamu, tapi kamu? Kamu malah kayak gini Jen!”
“Ara Im sorry, dengerin aku”
“No Need! Im broke up with u” Ucap Arabella yang sudah menangis, Hanni mendekatinya dan memeluk temannya itu.
“No Ara, aku gamau. Dengerin aku dulu” Jevano masih mencoba membujuk Arabella yang kini sudah menangis di pelukan Hanni.
Arabella tidak menghiraukannya, dan dia kini meninggalkan Jevano dan Gadis di parkiran.
“Loh kenapa, Me?” Tanya Athena saat mendapati sang adik menangis.
“Tadi habis berantem sama Jevano” Hanni menjawab.
“Wes wes ndak apa, ayo pulang aja. Nanti cerita ndek rumah” Kata Gavian yang kini menggantikan Hanni menenangkan Arabella.
“Kamu pulang ambek sapa, Han? Bareng aja tah?” Athena menawarkan.
“Endak, Ce. Aku bawa mobil kok. Makasih, aku pulang dulu” Pamit Hanni.
Mereka bertiga juga pulang karena semua yang diperlukan sudah beres.
Saat sampai di gerbang, mereka bertiga berpapasan dengan mobil Jevano. Arabella langsung memalingkan wajahnya.
Di mobil, Arabella menceritakan semuanya kepada kedua kakaknya.
Iya, sudah dibilang kan kalo Ldr tuh susah. Bahkan susah banget.